Belum Masuknya Transaksi E-Commerce Ke Dalam Data BPS

Perlambatan ekonomi di paruh pertama th. ini masih tetap jadi perbincangan diantara beberapa pihak. Rhenald Kasali, Guru Besar Kampus Indonesia menyebutkan kalau alih-alih berlangsung perlambatan, sekarang ini tengah berlangsung shifting atawa perpindahan ekonomi.

Umpamanya saja, timbulnya trend berbelanja on-line yang dilengkapi dengan cek resi jne bagi para konsumen sampai transportasi on-line buat gerai-gerai off line serta transportasi umum konvensional kemampuannya alami penurunan. Tapi, itu kontribusinya masih tetap kecil.

Belum Masuknya Transaksi E-Commerce Ke Dalam Data BPS

Menteri Komunikasi serta Informatika, Rudiantara menyebutkan, sekarang ini memanglah berlangsung perubahan cepat di bidang ekonomi digital. Berlangsung pencatatan berbelanja yang besar pada beberapa marketplace.

Tetapi hal itu belum juga diserap jadi data mengkonsumsi rumah tangga yang dapat mendorong perkembangan domestik bruto (PDB). Ia juga katakan potensi transaksi ekonomi digital dapat turunkan inflasi.

Dia mencontoh seperti ramainya pemakai transportasi on-line yang biayanya lebih murah dari transportasi umum konvensional. Hal semacam ini menurut dia dapat turunkan tingkat inflasi yang dapat dimasukkan dalam data Tubuh Pusat Statistik (BPS). ” Harusnya transaksi on-line dapat menyumbang daya beli serta turunkan inflasi meskipun masih tetap kecil, ” kata Rudiantara, Rabu (8/8).

Selain itu juga PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) capai sarana utang US$ 500 juta. Utang itu juga akan dipakai untuk ekspansi usaha.

Mengutip keterbukaan info Bursa Dampak Indonesia (BEI), Jumat (25/8/2017), BNI sudah di tandatangani facility agreement atas sarana utang US$ 500 juta dengan konsorsium yang terbagi dalam enam bank global pada 22 Agustus 2017. Utang itu bertenor lima th..

” Pencairan sarana utang itu (drawdown) direncanakan dikerjakan pada 30 Agustus 2017 lewat BNI KCLN London, ” tutur Sekretaris Perusahaan BNI Kiryanto.

Ia menjelaskan, utang itu dengan kriteria clean basis (tanpa ada jaminan). Dana utang juga akan dipakai untuk penuhi keperluan cashflow valas BNI serta ekspansi usaha.

” Besarnya nominal utang dengan periode waktu relatif panjang, tingkat suku bunga utang yang rendah, serta kriteria tanpa ada jaminan tunjukkan keyakinan counterpart yang tinggi pada BNI, ” terang dia.

Pada perdagangan saham session pertama Jumat minggu ini, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk turun 0, 34 % ke level 7. 400. Keseluruhan frekwensi perdagangan saham sekitaran 700 kali dengan nilai transaksi Rp 5, 4 miliar.

Terlebih dulu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) membukukan laba Rp 6, 41 triliun pada semester I 2017 atau naik 46, 7 % di banding periode sama th. terlebih dulu. Laba BNI semester I 2016 terdaftar Rp 4, 37 triliun.

Penambahan laba itu didukung oleh perkembangan credit yang penting, dimana credit perseroan naik 15, 4 % atau menjangkau Rp 412, 18 triliun. Perkembangan credit nyaris menjangkau 2 x lipat dari perkembangan credit industri perbankan pada Mei 2017 yang terdaftar 8, 7 %.

Dari perolehan credit, sejumlah Rp 296, 1 triliun atau 71, 8 % disalurkan ke segmen usaha, Rp 67, 1 triliun atau 16, 3 % ke segmen konsumer. Bekasnya 11, 9 % disalurkan lewat kantor cabang luar negeri serta perusahaan anak.

Direktur Keuangan serta Resiko Credit BNI Rico Budidarmo menyebutkan, perkembangan credit didukung oleh realisasi business banking pada semuanya segmen. Penyaluran credit ke debitur usaha korporasi serta BUMN melaju cepat bersamaan menggeliatkan project infrastruktur serta pertanian.

” Credit yang tersalurkan pada project infrastruktur terlalu fokus pada project jalan tol terutama di Pulau Jawa yang dikerjakan oleh BUMN. Mengenai credit yang tersalurkan ke bidang pertanian terlalu fokus pada pengembangan perkebunan oleh perusahaan-perusahaan nasional yang mempunyai jaringan internasional, ” kata dia.

Dana pihak ke-3 (DPK), pada semester I 2017 menjangkau Rp 463, 86 triliun. Jumlah dana murah (CASA) menjangkau 60, 9 %.

Selanjutnya, pendapatan bunga bersih (NII) menjangkau Rp 15, 40 triliun atau naik 10, 7 % di banding periode sama th. terlebih dulu Rp 13, 91 triliun. Margin bunga bersih (NIM) 5, 6 %. Lantas, pendapatan nonbunga naik 17, 9 % dari Rp 3, 95 triliun jadi Rp 4, 65 triliun.

” Dengan perolehan sebagian tanda kemampuan diatas, BNI dapat mencatat perkembangan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 6, 41 triliun atau tumbuh 46, 7 %, ” tutur dia.